Menganggur tidak sama dengan tidak bekerja atau tidak mau
bekerja.
Definisi dari istilah pengangguran adalah untuk
orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari
dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan
pekerjaan yang layak. Mereka yang karena suatu alasan tidak mau bekerja tidak
bisa dikatakan sebagai pengagguran. Seseorang identik dikatakn menganggur bila
dia ingin bekerja namun tidak mendapat pekerjaan.
Pengangguran merupakan
salah satu faktor penentu standar hidup suatu negara. Mereka yang menganggur
tidak dapat berkontribusi dalam siklus perekonomian suatu negara (baik barang atau
jasa). Negara yang memiliki tingkat pengangguran yang rendah akan memiliki
tingkat PDP yang tinggi dibanding negara yang memiliki tingkat pengangguran
yang rendah. Oleh karena itu pemerintah sebisa mungkin menekan angka
pengangguran di Indonesia.
Pada tahun 2006,
tingkat pengangguran di Indonesia sebesar 12,50 %, sementara pada tahun 2009
tingkat pengangguran di indonesia turun menjadi 8,25% dan pada tahun 2011
tingkat pengangguran menjadi 7,1%.
Sampai dengan tahun 2011, Indonesia menduduki peringkat 3 besar sebagai negara
dengan jumlah pengangguran terbayak di asia tenggara.
Menurut hasil Badan Pusat
Statistik Indonesia, tingkat pengangguran sesuai dengan tingkat pendidikan
terakhir yang diselesaikan dalam beberapa dekade ini mengalami penyimpangan trend.
Hal ini disebabkan tingkat pendidikan setara sarjana menempati presentasi
terbanyak sebagai penganggur dibanding tingkat pendidikan yang lebih rendah. Penyimpangan
yang dimaksudkan terletak pada pandangan yang menganggap pengangguran cenderung disebabkan oleh
tingkat pendidikan yang rendah atau tidak terdidik dan tidak memiliki kemampuan.
Tingkat pengangguran
disuatu daerah ataupun negara dapat diketahui
dengan membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja pada suatu periode. Angkatan kerja merupakan
jumlah orang yang bekerja dan yang tidak bekerja. Untuk mengurangi tingkat
pengangguran harus diimbangi penambahan jumlah angkatan yang bekerja di
Indonesia dengan cara menambah jumlah ketersediaan lapangan perkerjaan.
Pengangguran dalam jangka panjang akan menyebabkan penurunan PNB (Produk
Nasional Bruto) dan pendapatan perkapita.
Masalah pengangguran
merupakan masalah bersama. Berdasarkan kebutuhan dilapangan menunjukan bahwa di dalam lapangan pekerjaan dibutuhkan
tenaga kerja siap pakai dan memiliki daya saing lebih. Oleh karena itu pemerintah beserta pihak
swasta dan masing-masing individu harus bisa mengantisipasi masalah-masalah
yang dapat menyebabkan pengangguran terutama dengan semakin banyaknya pengangguran
bergelar sarjana.
Penyebab pengangguran
pada umumnya adalah kurangnya lapangan pekerjaan, sementara jumlah tenaga kerja
melimpah. Di Indonesia 4 lapangan pekerjaan utama adalah pertanian,
perdagangan, jasa kemasyrakatan dan industri. Selain pertanian dan perikanan,
lapangan perkerjaan lainnya membutuhkan keterampilan, pendidikan dan mampu
menyerap banyak tenaga kerja. Selain itu, pusat perekonomian di indonesia terletak
hanya di beberapa kota besar saja, yang menyebabkan lapangan pekerjaan di indonesia
menjadi terbatas.
Untuk memiliki
pekerjaan di era global ini, seseorang haruslah memiliki nilai jual lebih
dibandingkan kompetitornya. Nilai jual lebih itu dapat diperoleh dengan
menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya, mengikuti kepelatihan dll. Bila
melihat hasil BPS dimana jumlah pengangguran berpendidikan sarjana lebih banyak
dibanding setingkat sekolah dasar atau sekolah menengah maka kita harus
mengambil langkah lain. Jika tidak bisa mendapat pekerjaan maka kita ciptakan
lapangan pekerjaan itu sendiri dengan berwirausaha atau melakukan kegiatan usaha UMKM (Unit Mikro Kecil
Menengah).
Dalam berwirausaha atau usaha UMKM, yang perlu
diperhatikan adalah minat, motivasi, kreatif, unik, optimis, komitmen dan jeli
dalam melihat peluang usaha serta pantang menyerah. Wirausaha atau UKM
merupakan salah satu bentuk solusi dari pengentasan pengangguran karena dapat
membangkitkan laju ekonomi di indonesia yang mana mayoritas masyarakat di
indonesia berasal dari kalangan menengah kebawah.
UKM dan wirausaha dianggap memiliki daya tahan untuk hidup dan mempunyai kemampuan
untuk meningkatkan kinerjanya selama krisis ekonomi. Hal ini disebabkan oleh
fleksibilitas dalam melakukan penyesuaian proses produksinya, mampu berkembang
dengan modal sendiri, mampu mengembalikan pinjaman dengan bunga tinggi dan
tidak terlalu terlibat dalam hal birokrasi. UKM di Indonesia dapat bertahan di
masa krisis ekonomi disebabkan oleh 4 (empat) hal, yaitu :
- ·
Sebagian UKM menghasilkan barang-barang konsumsi (consumer
goods), khususnya yang tidak tahan lama,
- ·
Mayoritas UKM lebih mengandalkan pada non-banking financing dalam aspek pendanaan usaha,
- ·
Pada umumnya UKM melakukan spesialisasi produk yang ketat,
dalam arti hanya memproduksi barang atau jasa tertentu saja,
- ·
Terbentuknya UKM baru sebagai akibat dari banyaknya pemutusan
hubungan kerja di sektor formal.
Di
indonesia sendiri, kegiatan perekonomian UKM dapat menampung banyak pekerja karena beragamnya bidang yang
dapat tekuni. Selain itu perundang-undangan di indonesia sudah cukup baik dalam
menaungi UKM, ditambah dengan dipermudahnya KUR (Kredit Usaha Rakyat). Dengan
begitu modal usaha bukanlah momok yang perlu ditakuti dan diharap dapat
meningkatkan kreatifitas masyarakat khususnya angkatan kerja. Hal ini didukung
dengan hasil riset yang menunjukan bahwa UKM di Indonesia tiap tahun mengalami
peningkatan yang signifikan.
Perkembangan
ini perlu diikuti dengan pemberian pelatihan-pelatihan terpadu baik dari
pemerintah atau pihak swasta, pengembangan infrastruktur, akses informasi yang
tepat, kemudahan dalam birokrasi dan badan terkait yang mengurusi masalah
pengangguran dan pengawas UKM. Hal tersebut dibutuhkan untuk mengokohkan dan
menyakinkan masyarakat untuk menjadi entrepreneur.
Manfaat dari berkembangnya ukm dan menciptakan kesadaraan
tentang wirausaha pada setiap orang adalah
- ·
Mengembangkan
mindset dan wawasan bahwa setiap manusia sesungguhnya memilki potensi dalam
dirinya namun sering tidak menyadari dan mengembangkan secara optimal,
- ·
Menciptakan
ragam lapangan pekerjaan,
- ·
Menciptakan
perekonomian yang mandiri,
- ·
Melakukan
pengembangan kawasan-kawasan,
- ·
Menyelesaikan
masalah pengangguran yang terkait dengan masalah lainya, seperti kemiskinan, sampah,
kriminal, dan lingkungan yang tidak sehat.